Jaman sekarang, resto engga cuma jadi tempat isi perut tapi punya dekor yang kece juga jadi suatu keharusan buat kelangsungan usaha, ya walau tetep harus nyediain makanan enak juga sih. Tapi jujur deh, berapa banyak resto yang Boboers kunjungin karena pengen makanannya? Pasti kebanyakan dateng karena tempatnya bagus dan viral kan : Naah, ngomongin soal kafe dan resto cantik Bandung jadi salah satu gudangnya resto-resto kece. Entah karena warganya terlalu keratif atau emang karena dia tujuan wisata jadi semua pengembang resto dan hotel fokus kesana, pokoknya kota ini ga pernah kehabisan hal-hal berbau cantik 😀
Kalo selama ini Boboers cuma fokus ke daerah Lembang dan Dago, yuk
kenalan sama kawasan Punclut atau singkatan dari Puncak Ciumbuleuit.
Ciumbuleuit ini mirip-mirip Dago gitu, daerah dataran tinggi yang
otomatis punya view bagus. Dulu sih belum terlalu dilirik buat bangun
ini itu, tapi 2 tahun belakangan banyak banget resto kece dikawasan
ini. Apa aja? Niih daftarnya…
Yang perlu Boboers tahu, semua resto di bawah ini berada dalam satu
arena yang bernama D’dieuland, tiket masuk kawasan ini Rp. 10.000,
selain ada banyak resto yang cantik, D’diueland juga memiliki area
playground yang cukup lengkap.
D’dieuland
Dago Bakery Punclut
Mau ngerasain sensasi makan di ala-ala kastil Hogwarst dicampur indahnya pemandangan Bandung? Mampirlah ke Dago Bakery Punclut ini! Punya desain bangunan yang unik serta dhiasi lampu warna-warni yang kece saat malam, Dago Bakery Punclut ini cocok didatengin siang ataupun malam, selama weakday :p Kalo hari libur sipain sabar yang banyak saat makan di sana, karena rameee.
Cakrawala Sparkling Nature Restaurant
Pas sebelahan sama resto diatas, Cakrawala Sparkling Nature Restaurant hadir melengkapi kawasan wisata D’dieuland dengan konsep bangunan yang berbeda. Cakrawala Sparkling Nature Restaurant mengusung konsep angkasa raya, bangunan resto ini didesain dengan dominasi kaca warna-warni yang kece. Ruangan restonya pun dibagi menjadi beberapa tempat, mau makan cantik dengan duduk di kursi atau di sofabean bag sambil leyeh-leyeh menghadap alam Bandung yang menawan, semua bisaaa.
Tafso Barn
Konsep bedaalagi ditampilkan resto Tafso Barn. Engga kalah fotogenic sama dua resto diatas, Tafso Barn hadir dengan nuansa artistik ala-ala sarang burung dan tenda warna warni yang hidup. Tafso Barn ini lokasinya persis di samping Lereng Anteng.
Lereng Anteng
Lereng Anteng merupakan resto fotogenic pertama yang ada di kawasan Punclut. Sebelum ada 3 resto diatas ini tempat nongkrong favorit karena dekat dengan alam berada di ruang terbuka. Berbeda dengan retso diatas, Lereng Anteng lebih banyak menyajikan makanan pengganjal perut dengan porsi kecil dibanding makanan berat.
De Blankon
Satu lagi cafe ciamik yang ada di Punclut, De Blank On! Walau berada di Bandung, tapi cafe ini sangat kental nuansa Jawanya, menunya pun didominasi makan Jawa seperti gudeg, dan makanan khas Solo. Viewnya pun ga kalah cantik sama 4 resto diatas, yaiyalah lokasinya deretan :p Tapi kalo De Blankon ini desainnya lebih simple tapi bikin relax banget viewnya.
Salah satu tempat yang
melintas di pikiran ketika membayangkan keindahan pantai dengan
perbukitan hijau di sekitarnya adalah Selandia Baru. Namun ternyata
Indonesia juga punya panorama seperti itu, yakni di Pantai Menganti.
Terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa
Tengah, Pantai Menganti berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat
Kecamatan Gombong dengan waktu tempuh kurang-lebih satu jam.
Rute paling cepat menuju Pantai Menganti dari Kecamatan Gombong adalah
melalui Kecamatan Ayah. Perjalanan kemudian diteruskan melewati Jalan
Pantai Menganti.
Menjelang sampai, kondisi jalan akan menanjak dan berkelok di kawasan perbukitan. Kondisi menanjak mulai terasa dari pertigaan menuju Pantai Karangbolong dan Kecamatan Ayah.
Keindahan Pantai Menganti
Kawasan pantai pasir di Menganti berada di sisi barat. Kawasan ini merupakan pantai nelayan. Ketika siang hari, banyak perahu nelayan yang berlabuh di tepi pantai. Di pantai nelayan pun terdapat banyak warung makan dan kamar mandi untuk pengunjung. Letak pantai ini diapit oleh perbukitan di sekitarnya sehingga panorama bukit hijau turut menghiasi pandangan.
Panorama kawasan pantai nelayan di Menganti dengan tebing perbukitan hijau yang menjorok ke lautan. Panorama kawasan pantai nelayan di Menganti dengan tebing perbukitan hijau yang menjorok ke lautan.(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya) Pengunjung bisa menjamah kawasan bukit yang berada di timur-selatan Pantai Menganti. Untuk bisa ke sana, ada tumpangan pikap gratis. Bukit ini berada di Tanjung Karangbata dan sering disebut sebagai Bukit Gazebo. Penyebutan itu dikarenakan ada beberapa gazebo sederhana yang dibangun di lereng bukit. Gazebo itu bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat sambil menikmati panorama laut yang berpadu dengan hijaunya pegunungan. Untuk bisa beristirahat di pondokan, pengunjung tidak perlu membayar. Jika ada yang kosong, maka cukup gunakan saja gazebo itu untuk beristirahat. Baca juga: Transportasi Wisata ke Kebumen Mulai Rp 74.000, Ini Panduannya Panorama yang bisa disaksikan dari Tanjung Karangbata memang begitu menawan. Tebing yang menjulang tinggi dan memanjang di tepi laut membuat suasana seperti di Selandia Baru. Menikmati panorama itu tak harus di gazebo. Duduk di atas lembutnya rumput hijau sambil menikmati suasana pantai dengan gemuruh suara ombak juga merupakan pilihan yang menyenangkan. Gazebo di perbukitan Tanjung Karangbata Pantai Menganti yang bisa digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan. Gazebo di perbukitan Tanjung Karangbata Pantai Menganti yang bisa digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan.(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya) Terdapat pantai kecil di tanjung ini yang bernama Karangbata. Bibir Pantai Karangbata penuh dengan bebatuan kecil yang dulunya berasal dari gunung api purba di kawasan Pantai Menganti.
Beberapa spot foto juga sudah dibangun oleh pihak pengelola, salah satunya ada di sisi barat daya Tanjung Karangbata, yakni Jembatan Merah. Sesuai namanya, terdapat jembatan berwarna merah yang berdiri di atas batuan karang. Pengunjung yang senang berkemah pun bisa melakukannya di kawasan perbukitan Tanjung Karangbata. Jika berkemah di sini, maka keindahan pagi juga bisa didapatkan.
Legenda asal nama Menganti
Menurut masyarakat, nama Menganti berasal dari kata “Menanti”. Konon dulu ada panglima perang Majapahit yang melarikan diri ke pesisir selatan ini karena hubungan asmara dengan kekasihnya tidak direstui raja. Baca juga: Saatnya Kebumen Jadi Destinasi Wisata Utama di Jateng Mereka berjanji untuk bertemu di tepi pantai ini. Namun setelah sekian lama panglima menanti, kekasihnya tak kunjung datang. Ia pun terus setia menanti di atas perbukitan hijau ini sambil memandang ke arah samudera. Legenda lain mengenai asal nama Menganti masih berkaitan dengan penantian. Kali ini kisahnya menceritakan persahabatan salah satu Wali Songo, Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dengan Syekh Subakir.
Pantai Karangbata yang berbatu di kawasan Pantai Menganti, Kebumen. Pantai Karangbata yang berbatu di kawasan Pantai Menganti, Kebumen.(Kompas.com/Anggara Wikan Prasetya) Diceritakan mereka menyebarkan Islam di Jawa secara terpisah dan berjanji bertemu di pantai ini. Sunan Gresik sampai terlebih dahulu dan ia setia menunggu sahabatnya, Syekh Subakir. Mereka pun akhirnya bertemu dan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Penantian Sunan Gresik inilah yang juga dikaitkan dengan asal-usul nama Menganti.